Like if u like,,,,

18 Feb 2011

Mengajar Optimisme pada Anak

Optimisme pada anak, khususnya yang beranjak dewasa mampu mengusir depresi dan melindunginya dari masalah emosional. Dalam studi terhadap 5.600 anak pra-remaja di Australia, ditemukan bahwa pikiran yang optimis bisa membantu melindungi anak dari masalah emosional, seperti sikap antisiosial, penggunaan narkoba, depresi, dan lainnya.

Optimisme adalah hal yang penting dalam kesehatan anak dan diperlukan untuk membuatnya menghadapi permasalahan hidup yang menekan. Menurut dr Leslie Walker, Kepala Bagian dari Rumah Sakit Anak di Seattle mengatakan, sifat semacam ini bisa dibentuk. Namun, menurutnya, untuk hal ini, yang terpenting adalah contoh dari orangtua.

"Mencontoh orangtua adalah cara anak belajar menjalani hidup. Jika orangtua adalah tipe yang optimistis menghadapi hidup, Anda akan melihat anaknya juga akan seperti itu," jelas Walker seperti dikutip dari msnbc.com. Berikut adalah beberapa tips untuk membuat anak lebih optimis:

Mendengar dengan seksama
Kunci untuk mendapatkan rasa percaya dari anak adalah dengan membiarkannya mengutarakan apa yang ingin ia ungkap, dan Anda sebagai orangtua harus mendengar tanpa menghakimi. Menurut Walker, anak-anak memiliki perasaan yang kuat tetapi tak memiliki kata-kata untuk mengekspresikannya. Cerita yang ia utarakan pun merupakan bagian dari pembelajaran proses berpikir mereka. Mereka bisa saja bilang, "Saya benci Matematika!" padahal apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan adalah "Bagaimana caranya saya bisa belajar Matematika dengan lebih baik?" Tugas para orangtualah untuk mencari tahu apa yang ingin mereka ucapkan.

Hindari pelabelan
Sadar atau tidak, anak-anak akan berusaha memenuhi atau melawan segala ekspektasi orangtuanya. Jadi, setiap kali Anda mengatakan, "Anak kedua saya adalah anak saya yang paling pemalu," dan itu didengar oleh si kecil, maka hal itu akan menjadi identitas permanen dalam dirinya. Pelabelan negatif pada anak bisa membahayakan konsep diri anak, dan membuat orangtua menghadapi hal yang tak ia sukai dalam diri anak terus menerus.

Bentuk ulang, jangan dihindari
Anak remaja ingin ditangani dan dimengerti dengan serius. Untuk melakukan hal tersebut, orangtua harus menghadapi keadaannya. Contoh, jika si anak menyatakan mereka tidak suka pergi ke sekolah, bukan hal yang realistis untuk menjawab dengan kata-kata normatif dan klise, seperti, "Tenang saja, semua akan baik-baik saja, kok." Tanyakan lebih lanjut apa yang mengganggunya dan membuatnya tidak nyaman pergi ke sekolah, dan carilah hal-hal yang ia sukai di sekolah. Fokuskan pada hal itu dan bantu ia menghadapi masalah yang membuatnya enggan pergi ke sekolah. Cari tahu pula apakah ini hasil dari orang yang mengganggunya (bullying).

Melihat sisi terang
Menurut Walker, amat penting untuk menunjukkan kepada si kecil mengenai sisi baik dan sisi buruk dari setiap situasi yang ia hadapi, dorong ia untuk melihat sisi terangnya. Saat si kecil merasa sedih dan melihat dunia sebagai tempat yang sangat buruk untuk ditinggali, Anda bisa merespon dengan kata-kata bahwa dunia butuh keseimbangan dan hal-hal buruk bisa terjadi. Karena ada hal-hal buruk itulah ia bisa melihat hal-hal baik dan menghargainya lebih baik.

Optimisme dan harapan adalah hal yang sangat erat dan kadang terabaikan oleh para orangtua. Padahal hal itu diperlukan oleh anak untuk bangun di pagi hari dan mencoba menjalani hari lagi.
 
kompas.com

Manusia super,Guru super

 
Anak-anak muda itu memiliki hampir semua prasyarat untuk hidup nyaman dan sejahtera di kota. Namun, mereka memilih menjadi guru di pelosok-pelosok dusun negeri ini. Inilah kisah kaum muda yang berkomitmen untuk mencerdaskan rakyat.
Firman Budi Kurniawan (24) memindahkan gigi sepeda motornya ke gigi satu dan menarik gas dalam-dalam. Sepeda motor bebek itu pun melaju pelan meniti jalan setapak yang menanjak hampir 45 derajat.
Suara knalpot yang tadinya menyalak tiba-tiba mengedan. Rintangan pertama dengan susah payah bisa dilalui, selanjutnya sepeda motor itu meluncur bagai roller coaster di jalan penuh batu besar.
Kami tiba satu jam kemudian di sebuah dusun tanpa listrik di tengah hutan. Di antara pepohonan hutan, berdiri rumah-rumah panggung sederhana. Inilah Dusun Beroangin, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, tempat Firman tinggal dan bertugas sebagai guru sejak dua bulan lalu.
Firman adalah sarjana Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung yang bersedia bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar (GIM), sebuah gerakan nonpemerintah yang menantang para sarjana berprestasi mengabdi sebagai guru di daerah terpencil selama satu tahun.
Selain Firman, ada 50 sarjana berprestasi lainnya yang ditempatkan di pelosok dusun di Majene, Bengkalis (Riau), Tulang Bawang Barat (Lampung), Paser (Kalimantan Timur), dan Halmahera Selatan (Maluku Utara). Mereka disiapkan secara serius agar bisa hidup di daerah terpencil. Mereka juga dibekali teknik mengajar secara kreatif.
Erwin Puspitaningtyas Irjayanti (24), sarjana dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, ditempatkan di Passau. Dusun tanpa listrik itu menjorok 5 kilometer ke dalam hutan dari jalan poros Makassar-Mamuju. Rabu (19/1) malam, kami bertandang ke sana. Suasana hutan begitu meraja. Suara kera dan lolongan anjing liar terdengar bersahutan hingga tengah malam.
Meski demikian, Wiwin—begitu dia disapa—masih menikmati beberapa ”kemewahan”. Setidaknya, di kampung itu ada sinyal telepon dan genset milik warga. Ketika genset itu dinyalakan, Wiwin bisa menumpang mengisi baterai laptop dan telepon selulernya.
”Kemewahan” itu tidak dinikmati Agung Firmansyah (24) yang bertugas di Dusun Manyamba, Majene. Sekadar untuk menelepon atau mengisi baterai, Agung harus turun gunung sejauh 6 kilometer ke permukiman di pinggir pantai melalui jalan terjal.
Persoalan lain, tidak satu pun rumah di dusun itu yang memiliki fasilitas mandi, cuci, dan kakus. Alhasil, sarjana Ilmu Komputer Universitas Indonesia itu pun harus membiasakan diri bangun pada pagi buta untuk mandi di Sungai Manyamba, yang sampai awal tahun 1980-an masih dihuni buaya.
Dukun sakti
Kondisi alam hanya satu dari seabrek tantangan yang harus mereka taklukkan. Mereka juga harus menghadapi murid-murid yang tidak lancar membaca meski telah duduk di kelas III atau IV. Fasilitas sekolah juga amat minim.
Di tengah kondisi seperti itu, Firman mencoba membuat terobosan. Selasa (18/1) petang, ia mengajak muridnya di SD 33 Battutala mendaki bukit Beroangin yang curam. Di bukit itu, ia mengajar Bahasa Inggris. ”Matahari... sun, langit... sky,” kata Firman sambil menunjuk matahari dan langit yang memerah di ufuk barat.
Di kelas VI SD 27 Titibajo, Agung mengajar Matematika dengan menggunakan kartu remi sebagai alat bantu pelajaran berhitung. Pelajaran itu menjadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. Selain kartu remi, Agung juga kerap memanfaatkan benda-benda yang mudah ditemukan di sekitar dusun, seperti batu, pasir, kayu, sampai kompor sebagai alat peraga mata pelajaran IPA.
Tantangan lainnya, sejumlah warga dusun menganggap para guru muda itu ”manusia super” yang bisa melakukan apa saja. Firman beberapa kali dimintai tolong untuk mengobati orang yang digigit anjing gila. Lain waktu, dia diminta membetulkan mesin diesel, bahkan memberi nama bayi yang baru lahir. ”Saya dikira dukun sakti, ha-ha-ha,” ujarnya.
Wiwin pernah diminta mencari cara efektif untuk mengusir babi hutan. ”Seumur-umur, baru kali ini mikirin bagaimana mengusir babi hutan,” ujarnya.
Membangun mimpi
Anak-anak muda itu sebenarnya memiliki hampir semua prasyarat untuk hidup mapan di kota besar. Mereka punya prestasi akademik yang baik, jaringan, karier, dan penghasilan sangat lumayan.
Wiwin, misalnya, sebelumnya, adalah karyawan sebuah bank terkemuka. Penghasilannya per bulan belasan juta rupiah, bonus tahunan puluhan juta rupiah, dan punya kesempatan jalan-jalan ke luar negeri. Semua itu dia tinggalkan demi GIM.
Peserta GIM lainnya tidak kalah hebat. Sebagian ada yang bekerja di perusahaan multinasional atau telah mendapat beasiswa ke luar negeri. Lantas, mengapa mereka rela menanggalkan itu semua?
”Saya merasa, gerakan ini cocok dengan panggilan hati saya. Saya bercita-cita menjadi kaya raya agar bisa mendirikan sekolah buat orang tidak mampu. Sekarang belum kaya sudah bisa menolong,” ujar Wiwin.
Soleh Ahmad Nugraha, pengajar muda di Dusun Lombang, Malunda, melihat, program ini memungkinkan dia belajar dari kearifan orang desa. ”Ini (pendidikan) S-2 dari alam,” ujar sarjana Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran yang menanggalkan kariernya sebagai dosen demi GIM ini.
Agung ikut GIM karena ingin hidupnya bisa menginspirasi orang lain. ”Saya ingin membangkitkan mimpi tentang masa depan yang lebih baik kepada anak-anak di daerah terpencil,” katanya.
Penggagas GIM, Anies Baswedan, sepakat, mimpi untuk menjadi orang terdidik harus dibangkitkan hingga ke pelosok dusun yang keberadaannya sering kali diabaikan lantaran selama ini kita terlalu berorientasi ke kota.
”Mimpi itu penting. Ketika mereka punya mimpi jadi orang terdidik, mereka akan sekolah. Dan, kita sebagai orang terdidik punya tanggung jawab menularkan virus pengetahuan kepada mereka,” lanjutnya.
GIM memang belum banyak membuahkan hasil. Namun, setidaknya, kini, di sebuah dusun di tengah hutan Battutala, Aliman (32) bermimpi bisa menyekolahkan anak laki-lakinya hingga sarjana. ”Dia tidak boleh bodoh seperti saya,” katanya.
Sebuah mimpi yang indah....

www.kompas.com

Laporan Hasil Observasi sekolah

Profil Sekolah:

Nama sekolah : SD N xxxxxxxxxx
Alamat : Jln Jogja km xxxxxxxxx


Pada hari Sabtu tanggal 14 Maret 2020 saya melakukan observasi di SD N xxxxxxxxxxx mengenai mata pelajaran IPS khususnya kelas 5. Guru yang mengajar pelajaran IPS sendiri bernama Ibu Sulistyowati, beliau adalah guru wali kelas 5 sekaligus menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Banyak kriteria yang saya nilai, baik dari segi perangkat pembelajaran, proses pembelajaran, perilaku siswa dan segala sesuatunya mengenai SD N xxxxxxxxxxx.
I. Adapun aspek yang saya amati sebagai berikut:
a. Perangkat pembelajaran
1. Silabus
2. Satuan Pembelajaran
3. Rencana pembelajaran
b. Proses Pembelajaran
1. Membuka pelajaran
2. Penyajian Materi
3. Penggunaan bahasa
4. Penggunaan waktu
5. Variasi gerak
6. Cara memotivasi siswa
7. Teknik bertanya
8. Penguasaan Kelas
9. Penggunaan metode
10. Penggunaan media
11. Melakukan evaluasi
12. Menutup pelajaran
c. Perilaku siswa
1. Perilaku siswa didalam kelas
2. Perilauku siswa diluar kelas

II. Aspek pengamatan untuk kondisi sekolah:
a. Kondisi fisik sekolah
b. Potensi siswa
c. Potensi guru
d. Potensi karyawan
e. Fasilitas KMB, Media
f. Perpustakaan
g. Laboratorium
h. Bimbingan konseling
i. Bimbingan belajar
j. Kagiatan ekstraulikuler
k. Organisasi OSIS
l. Fasilitas UKS
m. Administrasi
o. Koperasi siswa
p. Tempat ibadah
q. kesehatan lingkungan

I. Aspek dalam jalannya KBM
A.Perangkat Pembelajaran
1. Silabus
Silabus yaitu perangkat pembelajaran sebagai panduan untuk mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam proses pembelajaran, silabus sangat dibutuhkan untuk relevansi mengajar. Di SD N xxxxxxxxxxx yang saya amati, perangkat mengajar (silabus) ini merupakan panduan yang diperlukan oleh semua tenaga pendidik, sehingga semua tenaga di SD tersebut wajib mempunyai dan menggunakan perangkat mengajar tersebut.

2. Satuan Pembelajaran
Satuan Pembelajaran merupakan komponen dasar pada setiap sekolah khususnya SD sebagai pemersatu adanya proses pembelajaran dan perangkat pembelajaran yang ada. Di SD N xxxxxxxxxxx ini semua yang termasuk dalam system pendidikan mempunyai keterkaitan satu sama lain sehingga di peroleh suatu system pendidikan yang ideal.

3. Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran merupakan suatu panduan khusus mengajar yang disusun berdasarkan silabus dan materi yang ada sehingga proses pembelajaran dapat berjalan sesuai skenario yang ada dan diperoleh tujuan pembelajaran yang optimal. Semua tenaga pendidik di SD N xxxxxxxxxxx wajib membuat rencana pembelajaran setiap akan menyampaikan materi ( proses pembelajaran) sehingga materi yang akan disampaikan dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.

B. Proses Pembelajaran
1. Membuka Pelajaran
Berdasarkan observasi di kelas 5 SD N xxxxxxxxxxx dalam proses pembelajaran IPS dengan pokok bahasan Pahlawan. Cara guru membuka pelajaran sangatlah menarik. Appersepsi yang dilakukan guru sangat memotivasi siswa untuk belajar lebih rajin dan serius. Appersepsi yang dilakukan dengan menggunakan lagu 17 Agustus 1945 dapat menambah motivasi semua siswa dalam mengikuti pelajaran yang dilaksanakan. Guru tersebut sangat kreatif sekali dalam membawakan materi. Dimulai dari salam pembuka, berdoa, presensi dan appersepsi serta pengulangan materi sebelumnya merupakan keterpaduan yang sangat menarik. Semua aspek yang ada berkaitan erat sehingga proses pembelajaran dapat dimulai dengan penuh antusiasme.
Contoh Appersepsi:
Anak-anak tentunya kita telah mengenal pahlawan kemerdekaan yang telah berjuang merebut kemerdekaan RI dari tangan para penjajah. Nah mari kita menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk kecintaan kita terhadap bangsa Indonesia sebagaimana para pahlawan kemerdekaan telah berjuang demi bangsa kita tercinta.
2. Penyajian Materi
Dibutuhkan metode yang tepat dalam proses pembelajaran khususnya IPS sehingga pelajaran IPS tidak terkesan hafalan. Berdasar observasi yang saya lakukan di kelas 5 SD N xxxxxxxxxxx, materi disajikan dengan metode demonstrasi, ceramah dan tanya jawab. Semua murid sangat antusias dalam proses pembelajaran. Penyajian materi disini sangat menarik. Semua buku pegangan ditutup kemudian guru mengeluarkan gambar-gambar pahlawan kemerdekaaan dan menyuruh siswa untuk maju ke depan satu persatu untuk menceritakan tentang gambar pahlawan yang dipilihkan guru untuk siswa ceritakan. Siswa yang kesulitan dalam bercerita akan dibantu salah satu teman yang lain.
3.Penggunaan Bahasa
Penggunaan bahasa yang dilakukan sangatlah tepat karena disesuaikan dengan umur dan daya tangkap kata siswa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
4. Penggunakan waktu
Waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran sudah sesuai batas waktu yang telah ditentukan karena adanya keterkaitan antara penyampaian materi, evaluasi,dan penilaian sehingga semua terpadu dalam waktu yang relative tepat. Dalam proses pembelajaran waktu yang dibutuhkan untuk setiap aspek sudah tepat sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak ada penguluran waktu untuk materi yang belum tersampaikan.

5. Variasi Gerak
Variasi gerak yang dilakukan guru pada proses pembelajaran sangat menarik. Guru dapat menarik perhatian semua siswa terutama dalam apersepsi dan penyampaian materi dengan beberapa gerakan tubuh yang sangat menarik siswa.

6. Cara memotovasi Siswa
Peran guru dalam memotivasi siswa sangat besar. Di sini guru memberikan penekanan terutama bagi siswa yang dapat bercerita dengan benar. Bagi siswa yang menjawab kurang baik pun guru tetap memberikan pujian karena telah berani tampil maju ke depan.
7. Teknik Bertanya
Teknik bertanya yang dilakukan guru sangat menarik. Pertanyaan yang diajukan bukanlah pertanyaan yang hanya mempunyai satu jawaban melainkan pertanyaan yang jawabannya bervariasi dimana dapat membuat siswa dapat menemukan sendiri. Guru tidak menyuruh siswa untuk bertanya secara terus menerus tetapi siswanya sendiri dengan antusias mengajukan dan menanggapi pertanyaan yang ada.
8. Penguasaan Kelas
Kelas sangat kondusif. Tidak ada satupun dari siswa yang tidak memperhatikan.
Semua siswa juga antusias terhadap materi yang diberikan.
9. Penggunaan metode
Guru menggunakan metode demonstrasi, ceramah, dan tanya jawab.
10. Penggunaan media
Media yang guru gunakan adalah gambar-gambar pahlawan kemerdekaan.
11. melakukan evaluasi
Dalam mengevaluasi siswa guru menyuruh siswa untuk menutup semua buku, kemudian siswa disuruh mengeluarkan buku tugas untuk mengerjakan soal evaluasi. Evaluasi sebanyak 5 soal, masing masing soal diberi skor 20. Soal diberikan secara lesan satu persatu oleh guru kemudian siswa disuruh langsung mengerjakan. Guru menyuruh siswa menyebutkan nama tokoh pahlawan yang disebutkan melalui gambar sekaligus siwa disuruh mengembangkan jawabannya
Catatan : diberi skor 20 bila siswa mampu mengembangkan jawabannya.
Diberi skor 10 bila siswa hanyamenjawab nama dari pahlawan tersebut.
12. Menutup pelajaran
Sebelum menutup pelajaran guru menanyakan kembali kepada siswa tentang hal yang belum dipahami siswa. Kemudian guru menyimpulkan materi bersama-sama siswa. Dan menutup pelajaran dengan salam dan doa.

C. Perilaku Siswa
1. Perilaku siswa di dalam kelas
Di dalam kelas siswa sangat patuh terhadap guru. Siswa berbicara dengan gurunya juga dengan sopan. Dalam jalannya KBM pun siswa sangat antusias dan aktif. Pada waktu diberi pertanyaan semua siswa saling berebut menjawab. Saat salah satu siswa berdemonstrasi di depan kelas siswa yang lain memperhatikan dengan antusias dan tidak canggung untuk ikut membantu bila siswa yang berdemontrasi mengalami kesulitan dalam menjelaskan materi.
2. Perilaku siswa di luar kelas
Di luar kelas siswa sangat patuh dan sopan terhadap gurunya. Setiap bertemu dengan gurunya siswa selalu menyapa dan menyium tangan gurunya. Dalam berbicara dengan gurunya pun siswa menggunakan bahasa yang sopan.

II. Aspek pengamatan untuk kondisi sekolah
A. Kondisi fisik sekolah
Kondisi fisik sekolah sangat baik dan terawat terdiri dari
1. gedung 1 terdiri dari :
a. 6 ruang kelas
b. 1 ruang guru
c. 1 ruang komputer
2. gedung 2 terdiri dari :
a. 1 ruang UKS
b. perpustakaan
c. ruang agama nasrani
3. kantin sekolah
4. tempat parkir guru dan siswa
5. lapangan upacara
6. taman sekolah
7. lapangan lompat jauh

B. Potensi siswa
Banyak sekali prestasi yang ditorehkan para siswa yang bersekolah di SD N xxxxxxxxxxx. Di tingkat kabupaten nama SD N xxxxxxxxxxx sudah tidak asing lagi namanya di mata masyarakat karena saking seringnya mendapat kejuaraan di tingkat kabupaten bahkan provinsi. Piala yang diletakkan di lemari pun hingga hampir memenuhi isi lemari. Banyak sekali para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di SD ini, hingga sekarang di SD ini dilakukan seleksi penerimaan siswa.

C. Potensi guru
Semua prestasi yang ditorehkan siswa tidak lain dikarenakan karena peran dari guru-guru di SD ini. Walaupun guru yang S1 baru dua, namum peran mereka dalam pembangunan sekolah SD N xxxxxxxxxxx ini patut di acungi jempol.

D. Potensi karyawan
Karyawan di SD ini baru ada satu, ditambah dengan tiga guru Wiyata Bakti yang lebih sering mengurusi bidang adminitrasi sekolah. Peran mereka juga sangat besar bagi perkembangan SD ini.

E. Fasilitas KMB, Media
Fasilitas yang tersedia sudah lebih dari cukup, antara lain Laptop dan LCD. Siswa juga dapat belajar komputer karena sudah disediakan 7 unit komputer di ruang komputer. Selain itu ada juga media lain seperti globe, bentuk-bentuk planet-planet dan orbitnya, kerangka manusia dan masih banyak lagi.

F. Perpustakaan
Buku-buku yang tersedia di perpustakaan sudah cukup lengkap, karena sekolah tidak hanya menyediakan buku-buku pelajaran melainkan juga menyediakan buku-buku sains, buku cerita rakyat, buku peternakan dan pertanian dan masih banyak lagi. Di perpustakaan juga menyediakan koran baru.

G. Laboratorium
Di sekolah ini belum terdapat ruang Laboraturium. Guru lebih sering menggunakan ruang kelas ataupun lingkungan sekitar sebagai tempat untuk penelitian bagi siswa.

H. Bimbingan konseling
Semua SD terutama di Kabupaten Purworejo rata-rata belum terdapat guru BK kushus di SD nya. Guru wali kelaslah yang bisa menangani sendiri permasalahan yang ada di diri siswa itu sendiri, begitu pula di SD ini.

I. Bimbingan belajar
Setiap kelas di SD ini, terutama kelas atas sering diberikan les tambahan yang dilaksanakan usai KBM berlangsung.

J. Kagiatan ekstraulikuler
Kegiatan ekstrakulikuler di SD ini cukup banyak, yaitu sepak bola, voli, pramuka, tari anak beriman anak beriman, PMR, Dokter Kecil dan masih banyak lagi.

K. Organisasi OSIS
Organisasi OSIS di SD ini belum ada, dan sebagai gantinya gurulah yang bertugas penuh dalam setiap kegiatan yang akan dilaksanakan sekolah. Disini guru menjadi panitia sekaligus penanggung jawab pelaksanaan setiap kegiatan sekolah.

L. Fasilitas UKS
UKS di Sd ini cukup baik. Fasilitas yang ada cukup lengkap mulai dari kamar tidur dan P3K

M. Administrasi
Adminitrasi sekolah diurusi oleh masing-masing guru dan Kepala Sekolah. Untuk pengetikan, menggunakan komputer yang sudah tersedia. Pengetikannya sendiri dibantu oleh beberapa guru wiyata bakti yang ada di sekolah ini.

N. Koperasi siswa
Disini belum ada koperasi bagi siswa. Namun terdapat kantin sekolah yang menjajakan berbagai makanan dan mnuman untuk siswa dan para guru.

O. Tempat ibadah
Tempat Ibadah terutama Mushola ataupun masjid di SD ini belum tersedia.

P. kesehatan lingkungan
Kesehatan lingkungan sangat terjaga kebersihannya. Setiap kelas terdapat tempat sampah. Setiap hari halaman sekolah juga di sapu oleh penjaga sekolah. Dan setiap hari sabtu semua siswa mengadakan kerja bakti bersih-bersih ruang kelas, terutama pada kelas besar.